Sumber hukum fiqih Islam

Semua hukum yang terdapat dalam fiqih Islam kembali kepada empat sumber. Mengenai hal ini, para ulama ahlussunnah bersepakat bahwa, dalil-dalil syar’I yang menjadi dasar dan diakui sebagai dalil dari agama islam adalah al-qur’an, hadist, ijma dan qiyas. Namun mengenai ijma dan qiyas terdapat perselisihan para ulama mengenai rinciannya, ijma dan qiyas yang seperti apakah yang dijadikan dalil, dsb.

Imam syafi’I mengatakan :

وجهة العلم الخبر في الكتاب أو السنة أو الاجماع أو القياس

“sumber ilmu adalah berita yang ada pada al-qur’an, hadist, ijma atau qiyas.” (lihat kitab Arrisalah)

Dan para ulama pun bersepakat bahwa inti dari keseluruhan dalil yang empat ini adalah al-qur’an dan hadist, dimana kedua hal ini merupakan dasar dari agama dan tiang tegaknya islam.

Imam syafi’I mengatakan “Diwajibkan untuk berpendapat dengan berdasar kepada al-qur’an dan hadits, adapun selain dari keduanya, maka ia harus mengikuti alquran dan sunnah”. (lihat kitab jimaa’ul ‘ilmi)

Dari keempat dalil yang kita sebutkan di atas, semuanya mempunyai keterikatan yang sangat kuat. Satu dalil dengan dalil yang lain saling mendukung dan membenarkan, sehingga tidak mungkin terjadi pertentangan. Kalaupun terjadi pertentangan hal ini dikarenakan pemahaman yang salah dari person akan dalil tersebut. Begitu pula, keempat dalil ini saling terikat satu sama lain, dimana semua dalil kembali kepada al-qur’an. Di dalam al-qur’an menunjukkan bahwa hadist itu adalah dalil, begitu pula al-qur’an dan hadist menunjukkan bahwa ijma itu adalah dalil, dan al-qur’an, hadist dan ijma menunjukkan bahwa qiyas itu adalah dalil.

Dari hal ini, maka benarlah jika dikatakan bahwa sumber dari empat dalil ini adalah alquran, adapun selainnya adalah penjelas dari quran yang bersandar kepada alqur’an.[1]

1. Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi kita Muhammad untuk menyelamatkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Ia adalah sumber pertama bagi hukum-hukum fiqih Islam. Jika kita menjumpai suatu permasalahan, maka pertamakali kita harus kembali kepada Kitab Allah guna mencari hukumnya.

Sebagai contoh:

Bila kita ditanya tentang hukum khamer (miras), judi, pengagungan terhadap bebatuan dan mengundi nasib, maka jika kita merujuk kepada Al Qur’an niscaya kita akan mendapatkannya dalam firman Allah subhanahu wa Ta’ala: (QS. Al maidah: 90)

Bila kita ditanya tentang masalah jual beli dan riba, maka kita dapatkan hukum hal tersebut dalam Kitab Allah (QS. Al baqarah: 275). Dan masih banyak contoh-contoh yang lain yang tidak memungkinkan untuk di perinci satu persatu.

2. As-Sunnah

As-Sunnah yaitu semua yang bersumber dari Nabi berupa perkataan, perbuatan atau persetujuan.

Contoh perkataan/sabda Nabi:

“Mencela sesama muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran.” (HR. Bukhari muslim, HR.Tirmidzi, HR.Nasa’i, HR.Ibnu Majah, HR.Ahmad)

As-Sunnah adalah sumber kedua setelah al Qur’an. Bila kita tidak mendapatkan hukum dari suatu permasalahn dalam Al Qur’an maka kita merujuk kepada as-Sunnah dan wajib mengamalkannya jika kita mendapatkan hukum tersebut. Dengan syarat, benar-benar bersumber dari Nabi shollallahu’alaihiwasallam dengan sanad yang sahih.

As Sunnah berfungsi sebagai penjelas al Qur’an dari apa yang bersifat global dan umum. Seperti perintah shalat; maka bagaimana tatacaranya didapati dalam as Sunnah. Oleh karena itu Nabi bersabda:

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR.K M Bukhari)

Sebagaimana pula as-Sunnah menetapkan sebagian hukum-hukum yang tidak dijelaskan dalam Al Qur’an. Seperti pengharaman memakai cincin emas dan kain sutra bagi laki-laki.[2]

3. Ijma’

Ijma’ mengandung dua makna, yaitu menyusun dan mengatur suatu hal yang tidak teratur, dan berarti pula sepakat atau bersatu dalam pendapat. Menurut istilah fuqaha, ijma’ ialah kesepakatan pendapat diantara para mujtahid, atau persetujuan pendapat di antara ulama fiqih di abad tertentu mengenai hukum syara’. Persetujuan pendapat ini diwujudkan dalam tiga cara:

  1. Dengan qauli (ijma’ qauli), yaitu pendapat yang diucapkan oleh para mujtahid yang diucapkan oleh para mujtahid yang diakui sah.
  2. Dengan fi’il (ijma’ ‘amali), yaitu apabila ada kesepakatan dalam praktik.
  3. Dengan diam (ijma’ sukkuti), yaitu apabila para mujtahid tidak membantah atas suatu atau beberapa mujtahid. Pada umumnya ulama berpendapat, bahwa ijma’ adalah kesepakatan para mujtahid saja, sehingga orang tidak alim dalam hukum islam tidak boleh mengambil bagian dalam ijma’. Ada juga yang berpendapat, bahwa ijma’ berarti persetujuan pendapat di antara kaum muslimin, hanya anak kecil dan orang gila saja yang tidak dilibatkan dalam ijma’. [3]

Ijma’ juga bermakna Kesepakatan seluruh ulama mujtahid dari umat Muhammad saw dari suatu generasi atas suatu hukum syar’i, dan jika sudah bersepakat ulama-ulama tersebut baik pada generasi sahabat atau sesudahnya akan suatu hukum syari’at maka kesepakatan mereka adalah ijma’, dan beramal dengan apa yang telah menjadi suatu ijma’ hukumnya wajib. Dan dalil akan hal tersebut sebagaimana yang dikabarkan Nabi saw, bahwa tidaklah umat ini akan berkumpul (bersepakat) dalam kesesatan, dan apa yang telah menjadi kesepakatan adalah hak (benar).

Maka Rosulullah bersabda tentang ijma’ :

إِنَّ أُمَّتِي لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلَالَةٍ

“sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat terhadap hal-hal yang sesat”. (HR Ibnu majah dalam sunannya, dan dihasankan syaikh Albani)

Begitu pula syaikh utsaimin berkata dalam ushul min ‘ilmi al ushul :

“kita katakan, bersepakatnya umat ini atas suatu hal, bisa jadi hal itu adalah benar, dan bisa jadi hal itu adalah salah. Jika hal itu adalah benar, maka itu menjadi dalil, namun jika hal tersebut adalah sesat, maka bagaimana mungkin, umat ini yang merupakan semulia-mulianya umat diantara umat-umat yang lain, dari masa nabinya sampai pada hari kiamat, berada pada perkara yang menyesatkan yang tidak diridhoi oleh Allah ta’ala?? Ini merupakan perkara yang sangat mustahil”.

Dari hal ini, sangat jelaslah bahwa ijma merupakan dalil selain dari al-qur’an dan hadist.

Lalu, apa faidah kita mengambil ijma sebagai dalil?

Maka hal ini untuk menegaskan suatu dalil dari al-qur’an dan hadits. Maksudnya, ketika terdapat suatu dalil al-qur’an dan hadits yang menunjukkan hukum suatu hal, kemudian para ulama bersepakat, ijma akan benarnya hukum tersebut, maka tidak ada orang lain yang bisa merubah dan mengganti hukum yang telah ditetapkan tersebut. Dan orang yang menyelisihinya adalah orang yang sesat.

Contoh yang lain adalah apa yang disebutkan dalam al-qur’an dan hadits yang menyatakan Allah mempunyai nama-nama dan sifat-sifat. Dan hal ini ditegaskan oleh ijma para ulama dengan mengatakan “hendaknya menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah dengan tidak menakwilkannya dan menyelewengkannya terhadap makna yang lain”. Dari hal ini, ketika ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa nama-nama dan sifat-sifat Allah harus ditakwil, maka ini adalah perkataan yang menyelisihi al-qur’an, hadits dan ijma para ulama.[4]

Dari Abu Bashrah rodiallahu’anhu, bahwa Nabi shollallahu’alaihiwasallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidaklah menjadikan ummatku atau ummat Muhammad berkumpul (besepakat) di atas kesesatan.” (HR.Tirmidzi, HR.Ahmad)

Contohnya:

Ijma para sahabat ra bahwa kakek mendapatkan bagian 1/6 dari harta warisan bersama anak laki-laki apabila tidak terdapat bapak.

Ijma’ merupakan sumber rujukan ketiga. Jika kita tidak mendapatkan didalam Al Qur’an dan demikian pula sunnah, maka untuk hal yang seperti ini kita melihat, apakah hal tersebut telah disepakatai oleh para ulama muslimin, apabila sudah, maka wajib bagi kita mengambilnya dan beramal dengannya

4. Qiyas

Qiyas menurut bahasa berarti ukuran. Dalam teori hukum Islam istilah tersebut berarti menghubungkan atau menyamakan hukumnya baik dalam Al-Qur’an maupun dalam hadis, dengan hukum suatu peristiwa yang ditegaskan hukuimnya dalam sumber-sumber tersebut, karena ada persamaan ‘illat (motif hukum) antara kedua peristiwa tersebut. Dengan demikian dipahami, bahwa qiyah adalah suatu metode untuk menemukan hukum suatu peristiwa yang tidak ada kejelasan hukumnya dalam sumber-sumber hukum utama. Ia dibutuhkan, karena Al-Qur’an dan sunnah telah terhenti dengan wafatnya Rasulullah sedangkan peristiwa dalam kehidupan manusia terus berkambang dan tidak berhenti.[5]

Qiyas juga berarti mencocokan perkara yang tidak didapatkan di dalamnya hukum syar’i dengan perkara lain yang memiliki nash yang sehukum dengannya, dikarenakan persamaan sebab/alasan antara keduanya. Pada qiyas inilah kita meruju’ apabila kita tidak mendapatkan nash dalam suatu hukum dari suatu permasalahan, baik di dalam Al Qur’an, sunnah maupun ijma’.

Begitu pula qiyas, dimana dengan adanya qiyas, segala permasalahan yang tidak disebutkan dalam al-qur’an dan hadits atau karena permasalahan baru yang disebabkan perkembangan jaman, maka bisa diketahui hukumnya dengan membandingkan dan menyerupakannya dengan dalil-dalil yang lain dan keadaan pada jaman nabi.[6]

Ia merupakan sumber rujukan keempat setelah Al Qur’an, as Sunnah dan Ijma’.

Qiyas memiliki empat rukun:

1. Dasar (dalil).

2. Masalah yang akan diqiyaskan.

3. Hukum yang terdapat pada dalil.

4. Kesamaan sebab/alasan antara dalil dan masalah yang diqiyaskan.

Contoh:

Allah mengharamkan khamer dengan dalil Al Qur’an, sebab atau alasan pengharamannya adalah karena ia memabukkan, dan menghilangkan kesadaran. Jika kita menemukan minuman memabukkan lain dengan nama yang berbeda selain khamer, maka kita menghukuminya dengan haram, sebagai hasil Qiyas dari khamer. Karena sebab atau alasan pengharaman khamer yaitu “memabukkan” terdapat pada minuman tersebut, sehingga ia menjadi haram sebagaimana pula khamer.

Inilah sumber-sumber yang menjadi rujukan syari’at dalam perkara-perkara fiqih Islam, kami sebutkan semoga mendapat manfaat, adapun lebih lengkapnya dapat dilihat di dalam kitab-kitab usul fiqh Islam

Pentingnya Mempelajari Fiqih Islam

Allah telah menetapkan hukum dari segala sesuatu dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Para ahli ushul fiqih kemudian menggali pokok-pokok pemahaman dari teks-teks yang ada pada keduanya. Dengan memanfaatkan jerih payah para ahli ushul fiqih tersebut, para ahli fiqih kemudian menjelaskan hukum dari segala sesuatu. Penjelasan-penjelasan tersebut tertuang dalam Fiqih Islam. Jadi dengan mempelajari Fiqih Islam, kita akan mengetahui hukum dari segala sesuatu, sehingga kita bisa menjalani kehidupan sesuai dengan hukum-hukum tersebut. Dengan menjalani kehidupan sesuai dengan hukum-hukum Allah tersebut, kita akan selamat dan bahagia di dunia dan di akhirat.

Keutamaan Mempelajari Fiqih Islam

  • · Dengan mempelajari Fiqih Islam, kita akan menjadi orang yang berilmu karena mengetahui hukum-hukum agama. Kalau kita telah menjadi orang yang berilmu, maka kita akan memiliki banyak kelebihan dan keutamaan diatas orang-orang yang tidak berilmu. Allah berfirman :“Katakanlah : Apakah sama antara orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu?”(QS Az-Zumar: 9)
  • · Sebaik-baik hamba Allah ialah yang paling takut kepada-Nya. Seseorang tidak akan memiliki rasa takut kepada Allah kecuali jika dia itu orang yang berilmu. Allah berfirman :“Yang takut kepada Allah diantara para hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu”.    (QS Faathir: 28)
  • · Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Allah berfirman :“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang dikaruniai ilmu”. (QS Al-Mujadalah : 11)
  • · Allah memerintahkan bahwa sebagian diantara orang-orang mukmin harus ada yang memperdalam agamanya, untuk kemudian memberi peringatan kepada saudara-saudaranya sesama mukmin yang lain. Allah berfirman :“Mengapa tidak pergi dari setiap kelompok diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan tentang din dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga diri”.  (QS At-Taubah 122)
  • · Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan atasnya, maka Allah akan menjadikannya paham dalam masalah agamanya” (HR Bukhari-Muslim)[7]

Referensi

  • IAIN Syarif Hidayatullah. Ensiklopedi Islam Indonesia Jilid 3. Djambatan. Jakarta. 2002.
  • ushul-fiqih-3-dasar-dan-sumber-dalil.html
  • www. Sutisna.com
  • IAIN Syarif Hidayatullah. Ensiklopedi Islam Indonesia Jilid 2. Djambatan. Jakarta. 2002.


[1] ushul-fiqih-3-dasar-dan-sumber-dalil.html

[2] www. Sutisna.com

[3]IAIN Syarif Hidayatullah,Ensiklopedi Islam Indonesia Jilid2,Hal 429.

[4] ushul-fiqih-3-dasar-dan-sumber-dalil.html

[5] IAIN Syarif Hidayatullah,Ensiklopedi Islam Indonesia Jilid 3, Hal 932.

[6] ushul-fiqih-3-dasar-dan-sumber-dalil.html

[7] www. Sutisna.com

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s