Pengertian hadis dan sinonimnya

PENDAHULUAN

Hadits atau yang disebut juga sebagai sunnah adalah segala sesuatu yang bersumber atau disandarkan kepada nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, atau, atau taqrir-nya. Sebagai sumber ajaran Islam setelah AL-Qur’an, sejarah perjalanan haditstidak terpisahkan dari sejarah perjalanan Islam itu sendiri. Akan tetapi, dalam beberapa hal terdapat ciri-ciri yang spesifik, sehingga dalam mempelajarinya diperlukan pendekatan khusus.

Dengan demikian, hadits-hadits yang ada pada para sahabat, yang kemudian diterima oleh para tabi’in, memungkinkan adanya redaksi yang berbeda-beda. Sebab, ada yang meriwayatkannya sesuai atau sama benar dengan lafazh yang diterima oleh nabi (yang disebut dengan periwayatan bi al-lafazhi), ada juga yang hanya sesuai makna atau maksudnya saja (yang disebut dengan periwayatan bi al-ma’na), sedangkan redaksinya tidak sama.

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Hadis

Hadis memiliki dua pengertian, pengertian secara bahasa dan pengertian secara istilah. Secara bahasa, hadis berasal dari kata hadis, bentuk jamaknya adalah ahadis. Dari kata tersebut, hadis memiliki banyak arti, diantaranya al-jadid (yang baru), al-qarib (yang dekat), dan al-khabar (kabar berita) kata al-hadis dalam Al-Qur’an disebut sebanyak 23 kali berarti kisah, ajaran, kata, berita, dan sebagainya. Jadi, kemungkinan hadis memiliki arti yang cukup luas.[1]

Hadis juga bias diartikan al-hadits menurut bahasa al-jadid yang artinya sesuatu yang baru, lawan dari al-Qadim (lama) artinya yaitu menunjukan kepada waktu yang dekat  atau waktu yang singkat. Hadis juga sering disebut al-khabar, yang berarti berita, yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain, sama maknanya dengan hadis. Hadis dengan pengertian khabar sebagaimana di atas dapat dilihat pada beberapa ayat al-Qur’an, seperti QS. Al-Thur (52): 34, QS. Al-Kahfi (18): 6, dan QS. Al-Dhuha (93): 11.

Sedangkan menurut istilah (terminologi), para ahli memberikan definisi (ta’rif) yang berbeda-beda sesuai dengan latar belakang disiplin ilmunya. Seperti pengertian hadits menurut ahli ushul akan berbeda dengan pengertian yang diberikan oleh ahli hadis. Menurut ahli hadits, pengertian hadits ialah yang artinya sebagai berikut:

“ Segala perkataan Nabi, perbuatan, dan hal ihwalnya ”.

Yang dimaksud dengan “hal ihwalnya” ialah segala yang diriwayatkan dari Nabi SAW. Yang berkaitan dengan himmah, karakteristik, sejarah kelahiran, dan kebiasaan-kebiasaannya. Ada juga yang memberikan pengertian lain yang artinya yaitu:

“ Sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW. Baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, maupun sifat beliau “.

Sebagian muhadditsin berpendapat bahwa pengertian hadis di atas merupakan pengertian yanmg sempit. Menurut mereka, hadis mempunyai cakupan pengertian yang lebih luas, tidak terbatas pada apa yang disandarkan oleh Nabi SAW (hadits marfu’), melainkan termasuk juga yang disandarkan kepada para sahabat (hadits mauquf), dan tabi’in (hadits maqtu’), sebagaimana disebutkan oleh Al-Tirmisi yang artinya :

“ Bahwasanya hadis itu bukan hanya untuk sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW. Melainkan bisa juga untuk sesuatu yang mauquf, yaitu yang disandarkan kepada sahabat dan juga maqtu’ yaitu yang disandarkan kepada tabi’in “.

Sementara para ulama ushul memberikan pengertian hadits yaitu yang artinya :

“ Segala perkataan Nabi SAW, perbuatan, dan taqrirnya yang berkaitan dengan hokum syara’ dan ketetapanya”.

Berdasarkan pengertian hadis menurut ahli ushul, jelas bahwa hadis adalah segala sesuatau yang bersumber dari Nabi SAW. Baik ucapan, perbuatan maupun ketetapan yang berhubungan dengan hukum atau ketentuan-ketentuan Allah SWT yang disyariatkan kepada manusia. Selain itu tidak bisa dikatakan hadis. Ini berarti bahwa ahli ushul membedakan diri Muhammad sebagai rasul dan sebagai manusia biasa. Yang dikatakan hadis adalah sesuatu yang berkaitan dengan misi dan ajaran Allah SWT yang diemban oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagai rasulullah. Inipun menurut mereka harus berupa ucapan dan perbuatan beliau serta ketetapan-ketetapannya. Sedangkan kebiasaan-kebiasaan, tata cara berpakaian, cara tidur dan sejenisnya merupakan kebiasaan manusia dan sifat kemanusiaan tidak tidak dapat dikategorikan sebagai hadis. Dengan demikian, pengertian hadis menurut ahli ushul lebih sempit dibanding dengan pengertian hadis menurut ahli hadis. [2]

  1. Pengertian As-Sunnah

Pengertian as-sunnah secara etiomologis as-sunnah berarti perjalanan yang baik maupun yang buruk. Khalid bin Utbah  al-Huzaliy berkata yang artinya:

“jangan kau halangi pebuatan yang telah kau lakukan, karena orang yang pertama menyenangi suatu perbuatan adalah orang yang melakukanya”.

Dalam pengertian as-sunnah secara syara’ kata as -sunnah dimaksudkan sebagai segala sesuatu yang diperintahkan, dilarang, atau dianjurkan oleh Nabi SAW. Baik berbentuk sabda maupun perbuatan. Oleh karena itu dikatakan bahwa dalil-dalil syara’ adalah AL-Qur’an dan as-sunnah, yakni AL-Qur’an dan al-hadis.[3] Sedangkan sunnah menurut istilah, dikalangan ulama terdapat perbedaan pendapat. Hal ini disebabkan karena perbedaan latarbelakang, perseosi, dan sudut pandang masing-masing terhadap diri Rasulullah SAW. Secara garis besarnya mereka terkelompok menjadi tiga golongan: Ahli Hadits, Ahli Ushul, dan Ahli fiqih.

  • Pengertian sunnah menurut ahli hadis yaitu yang artinya:

“Segala yang bersumber dari Nabi SAW. Baik berupa perkataan, perbuatan, perjalanan hidup, baik sebelum diangkat menjadi Rasul maupun sesudahnya”.

Jadi dengan definisi tersebut, para ahli hadis menyamakan antara sunnah dengan hadis. Tampaknya para ahli hadis membawa makna sunnah ini kepada seluruh kebiasaan Nabi SAW. Baik yang melahirkan hukum syara’ maupun tidak. Hal ini terlihat dari definisi yang mencakup tradisi Nabi sebelum masa terutusnya sebagai Rasul.

Menurut ahli Hadis, karena memandang diri Rasul sebagai uswatun khasanah, oleh karenanya, para ahli hadis menerima secara utuh segala yang diberikan tentang diri Rasul SAW. Tanpa yang membedakan apakah yang diberitakan itu berhubungan dengan hukum syara’ atau tidak.

Pendapat tersebut didasarkan kepada firman Allah SWT. Dalam QS Al-Ahzab(33):21

ô‰s)©9 tb%x. öNä3s9 ’Îû ÉAqߙu‘ «!$# îouqó™é& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöqu‹ø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”.

  • Pengertian sunnah menurut ahli Ushul

Sunnah adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW. Yang berhubungan dengan hukum syara’, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrir beliau. Definisi ahli Ushul membatasi pengertian sunnah hanya pada segala sesuatu yang bersumber pada Nabi. Dengan demikian, sifat, perilaku, sejarah hidup, dan segala yang bersumber dari nabi SAW. Yang tidak berkaitan dengan hukum syara’ dan terjadi sebelum diangkat menjadi Rasul tidak dikatakan sebagai sunnah. Demikian pula tidak dikatakan sebagai sunnah segala yang bersumber dari sahabat dan tabi’in, baik perkataan, perbuatan, maupun ketetapan-ketetapannya. Banyak ayat al-Qur’an yang dapat dijadikan argumentasi bagi pemahaman ahli Ushul, seperti

fiman Allah SWT. QS. Al-Hasyr(59):7

!$tBur ãNä39s?#uä ãAqߙ§9$# çnrä‹ã‚sù $tBur öNä39pktX çm÷Ytã (#qßgtFR$$sù 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ( ¨bÎ) ©!$# ߉ƒÏ‰x© É>$s)Ïèø9$# ÇÐÈ

……….apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.”

  • Pengertian sunnah menurut ahli Fiqih

Segala ketetapan yang berasal dari Nabi SAW. Selain yang difardukan dan diwajibkan termasuk hukum taqlifi yang lima. Ulama ahli Fiqih mendefinisikan sunnah seperti itu karena mereka memusatkan pembahasan tentang pribadi dan perilaku Rasul SAW. Pada perbuatan-perbuatan yang melandasi hukum syara’ , untuk diterapkan pada perbuatan manusia pada umumnya, baik yang wajib, haram, makruh, mubah, maupun sunnah.

  1. Pengertian Khabar dan Atsar

Khabar yakni berita yang disampaikan oleh seseorang kepada orang lain, sedang pengertian khabar menurut istilah antara satu ulama dengan ulama yang lainya berbeda pendapat. Menurut ulama ahli hadis khabar sama artinya dengan hadis, keduanaya dapat dipakai sesuatu marfu’, mauquf’, dan maqthu’, mencakup yang datang dari Nabi SAW, sahabat dan tabi’in, baik perkataan, perbuatan, maupun ketetapannya.

Adapun atsar menurut pendekatan bahasa sama pula artinya dengan khabar, hadis, dan sunnah. Sedangkan menurut istilah yaitu segala sesuatau yang diriwayatkan dari sahabat, dan boleh juga disandarkan pada perkataan Nabi SAW. Jumhur ulama mengatakan bahwa atsar sama dengan khabar. Sedangkan menurut para ulama khurasan bahwa atsar untuk yang mauquf’ sedang khabar untuk yang marfu’

Dari keempat pengertian tentang hadis, sunnah, khabar, dan atsar sebagaimana diuraikan diatas, dapat ditarik satu pengertian bahwa keempat istilah tersebut pada dasarnya memiliki kesamaan maksud, yaitu segala sesuatu yang bersumber dari Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrirnya.[4]

Penutup

Dari pembahasan diatas jelaslah bahwa hadis merupakan sumber kedua dari Al-Qur’an, hadis juga berfungsi untuk penjelas dan penegas ayat-ayat al-Qur’an yang dimana terdapat persamaan-persamaannya seperti sunnah khabar, dan atsar.

Daftar pustaka

  • Khumaidi,irham. Ilmu Hadis untuk pemula. 2008. Jakarta: CV. Artha Rifera.
  • Suparta,munzier,MA. Ilmu Hadis. 2002. Jakarta: Rajawali pers.
  • Al-khathib,M,Ajaj. Usul al-Hadis. 2007. Jakarta: Gaya Media Pratama.
  • Thahhan,Mahmud. Ulumul Hadis. 1997. Yogyakarta: Titian Ilahi Press.

[1] Irham khumaidi, Ilmu hadis untuk pemula, Hal 1 dan 2

[2] Drs. Munzier Suparta, MA. Ilmu Hadis, Hal 2, 3, dan 4

[3] DR.M.’Ajaj Al-Khathib, Ushul Al-Hadis, Hal 2

[4] Drs. Munzier Suparta, MA. Ilmu Hadis. Hal 15 dan 16

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s