Ijtihad dan Taklid

  1. A. Pengertian Ijtihad

Arti Ijtihad menurut etimologi adalah mengeluarkan tenaga atau kemampuan  sedangkan menurut terminology adalah mengeluarkan tenaga dan kemampuan untuk mendapat kesimpulan  hukum dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Menurut praktek para sahabat, pengertian ijtihad ialah penelitian dan pemikiran untuk mendapatkan sesuatu yang terdekat dengan kitab Allah dan Sunnah Rasul SAW, baik melalui suatu nash, yang disebut qiyas (masqul nash), maupun melalui maksud dan tujuan umum hikmah syariat, yang disebut ‘maslahat’.

Ijtihad juga merupakan orang yang mujtahid mengistinbatkan hukum baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain mengenai hal-hal yang telah terjadi dan kadang-kadang belum terjadi atau juga menetapkan maksud ayat–ayat tertentu. (dalam Al-Qur’an) dengan melalui penafsiran sungguh.

Ijtihad diperlukan setelah Nabi wafat karena permasalahan selalu berkembang. Seperti masalah-masalah yang berkembang baru di abad ini diantaranya cangkok mata, bayi tabung, dan lain-lain, ijtihad tetap dibuka dengan berpedoman pada qaidah-qaidah ulama’ yang terdahulu dalam ilmu ushul fikih.

  • Syarat-syarat seorang mujtahid (orang yang berijtihad)
  1. Menguasai bahasa arab tentu dengan nahwu, sharaf dan balaghahnya karena Al-Qur’an dan Al-Hadits berbahasa arab.
  2. Menguasai dan memahami Al-Qur’an seluruhnya, kalau tidak ia akan menarik suatu hukum dari suatu ayat  yang bertentangan dengan ayat lain contohnya doa terhadap orang yang mati . Ada golongan-golongan yang menyatakan bahwa berdoa kepada orang yang mati,  bersedekah dan membaca  Al-Qur’an tidak berguna, dengan dalil:

“Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah ia kerjakan.” (QS. An-Najm: 39)

Hal itu bertentangan dengan banyak ayat yang menyuruh kita untuk mendoakan orang mati. Dalam ayat  lain tercantum:

Orang-orang yang datang setelah mereka berkata, Yaa Allah ampunilah kami dan saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS. Al-Hasyr: 10)

  1. Menguasai Hadis Rasulullah yang baik dari segi riwayat hadis untuk dapat membedakan antara hadis yang shahih dan yang dhaif. Mengapa harus menguasai hadis? Karena yang berhak untuk yang pertama kali menjelaskan Al-Qur’an adalah Rasulullah SAW. maka apabila tidak menguasai hadis, dikwatirkan mengambil kesimpulan suatu hukum bertentangan dengan hadis yang shahih, tentu ijtihad tersebut tidak dapat dibenarkan artinya bathil.

Kami turunkan kepada engkau peringatan (Al-Quran) supaya engkau terangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka mudah-mudahan mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl: 44)

“Dan apa yang Rasul berikan hendaklah kamu ambil, dan apa yang kamu larang kepadamu hendaklah kamu hentikan, dan takutlah kepada Allah, sesungguhnya Allah keras siksa-Nya.”(QS. Al-Hasyr: 7)

  1. Mengetahui Ijma’ (kesepakatan hukum) para sahabat supaya kita dalam menentukan hukum tidak  bertentangan dengn apa yang telah disepakati oleh sahabat, karena mereka yang lebih mengetahui tentang syariat Islam. Mereka hidup bersama dengan Nabi dan mengetahui sebab-sebab turunnya Al-Quran dan datangnya Hadis.
  2. Mengetahui adat dan kebiasaan manusia. Adat dan kebiasaan bias dijadikan hukum selama tidak bertentangan dengan Al-Quran  As-Sunah. Ijtihad pada zaman Nabi SAW. tidak diperlukan, sebab apabila sahabat mempunyai persoalan langsung bertanya kepada Nabi dan Nabi langsung menjawab.
  • Kriteria ijtihad

Menurut Dr. Yusuf Qardhawi, ada tiga tingkatan kriteria ijtihad, yaitu:

  1. Dharuriyat, yaitu hal-hal yang penting yang harus dipenuhin untuk kelangsungan hidup manusia. Bila hal tersebut tak terpenuhi, maka akan terjadi kerusakan, kerusuhan  dan kekacuan.  Seperti contohnya demi memelihara jiwa, agama, harta, akal dan keturunan.
  2. Hajjiyat, yaitu hal-hal yang dibutuhkan oleh manusia dalam hidupnya. Bila hal tersebut tak dipenuhi, maka manusia akan selau dihingapi perasaan kesempitan dan kesulitan. Di antaranya memberikan rukhsah di dalam kesempitan atau kesulitan.
  3. 3. Taksinat, yaitu hal-hal  pelengkap  yang terdiri atas kebiasaan dan akhlak yang baik.

  1. B. Pengertian Taklid

Taklid secara terminologi: menurut Dr. Wahbah Juhaili dalam kitabnya Ushul al-fiqh al- islami. Taklid adalah mengikutti pendapat orang lain tanpa mengetahui dalilnya. Taklid bisa juga diartikan sebagai pengakuan.

  1. Menurut  imam Al-Ghazali dalam kitabnya al-Musthasfa: Taklid adalah menerima perkataan orang lain tanpa dasar.
  2. menurut Al-Amidi dalam Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam: adalah beramal dengan perkataan orang lain tanpa hujjah.

Contoh sederhana taklid seperti orang yang tidak tahu dalil wajibnya sholat, tapi ia selalu melaksanakan sholat setiap hari karena melihat ulama sholat setiap hari. Atau ada seorang ulama yang memberi tahu kita bahwa sholat itu wajib tanpa memberitahukan dalilnya. Ini yang namanya taklid.

Dan taklid pada masalah aqidah ada yang mewajibkan, ada yang mengharamkan, serta ada yang menghalalkan. Yang mewajibkan adalah sebagian kecil ulama. Sedangkan yang menghalalkan adalah pendapat Hasywiah (sekelompok orang yang berpegang pada dzahirnya ayat) serta ‘Ubaidillah bin al-Hasan. Sedangkan yang mengharamkan adalah pendapat mayoritas ulama.

Adapun dalam masalah furu’, juga ulama berbeda pendapat disini. Ada yang tidak membolehkan pada masalah furu’. Pendapat ini diusung oleh ulama dzahiriah, mu’tazilah Baghdad serta sekelompok besar syiah Imamiah. Mereka mengatakan bahwa seseorang wajib berijtihad sesuai dengan kemampuannya. Ada juga yang mewajibkan. Pendapat ini diusung oleh hasywiah. Mereka mengatakan bahwa ijtihad ditutup setelah imam-imam mujtahidin. Kemudian yang terakhir mazhab jumhur, yaitu jika seseorang sudah mencapai derajat mujtahid, maka taklid haram baginya, adapun jika belum sampai pada tahapan ijtihad, maka taklid menjadi wajib.

Menurut Abu Ahmad Syafiq contoh taklid adalah ketika ana membaca Shahih Bukhari, ana tidak bisa mensyarah  seluruh isi hadits yang ada pada shahih bukhari tersebut, untuk itu ana bertaklid pada Ibnu Hajjar dalam kitab Fathul barri’nya.

Saikh Ali bin Hasan Al-Halaby mengatakan taklid adalah percaya begitu saja kepada ajaran-ajaran yang diberikan oleh orang yang dapat dipercaya tanpa mengetahui  atau mempelajari sendiri.

Referensi:

  1. Azhar Basyir, Ahmad dkk, Ijtihad Dalam Sorotan, Bandung: Mizan, 1988.
  2. Partanto, Pius dan Al- Barry M. Dahlan, Kamus Ilmiah Populer, Yogyakarta: Arkola, 1994.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s