pemikiran augustinus

PENDAHULUAN

Stuart Hampshire menyatakan bahwa Filsafat adalah suatu kegiatan pikir manusia yang bersinambungan. Pikiran tokoh pada masa tertentu baru jelas dipahami setelah melihat hubunganya dengan pemikiran-pemikiran sebelumnya. Augustinus mempunya tempat tersendiri dalam sejarah filsafat. Augustin telah meletakan dasar-dasar bagi pemikiran abad pertengahan mengadaptasikan platonisme dengan ide-ide Kristen. Ia telah memberikan formulasi yang sistematis tentang filsafat Kristen, suatu filsafat yang dominan pada khatolik dan protestan.

PEMBAHASAN

  1. Fisafat dalam agama Kristen

Setelah filsafat Yunani sampai ke daratan Eropa, di sana mendapat lahan baru dalam pertumbuhanya. Karena bersama dengan agama Kristen, filsafat yunani berintegrasi dengan agama Kristen, sehingga membentuk formulasi baru. Maka, muncullah filsafat Eropa yang sesungguhnya sebagai penjelmaan filsafat filsafat yunani setelah berintegrasi dengan agama Kristen.

Kekuatan pengaruh antara filsafat Yunani dengan agama Kristen dikatakan seimbang. Apabila tidak seimbang pengaruhnya, maka tidak mungkin berintegrasi membentuk formula baru. Walapun agama Kristen masih baru keadaanya, tetapi pada saat itu muncul anggapan yang sama terhadap filsafat Yunani ataupun agama Kristen. Anggapan pertama, bahwa Tuhan turun ke bumi (dunia) dengan membawa kabar baik bagi umat manusia. Kabar baik tersebut berupa firman Tuhan yang dianggap sebagai sumber kebijaksanaan yang sempurna dan sejati. Anggapan kedua, bahwa walaupun orang-orang telah mengenal agama baru, tetapi juga mengenal filsafat yunani yang dianggap sebagai sumber kebijaksanan yang tidak diragukan lagi kebenaranya.

Dengan demikian, di benua Eropa filsafat yunani akan tumbuh dan berkembang dalam suasana yang lain. Filsafat Eropa merupakan sesuatu yang baru, pohon filsafat masih yang lama (dari yunani), tetapi tunas yang baru (karena pengaruh agama Kristen) memungkinkan perkembangan dan pertumbuhan yang rindang.

Filsafat Barat Abad Pertengahan (476-1492) juga dapat dikatakan  sebagai “abad gelap”. Pendapat ini didasarkan pada pendekatan sejarah gereja. Memang pada saat itu tindakan gereja sangat membelenggu kehidupan manusia sehingga manusia tidak lagi memiliki kebebasan untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya. Apabila terdapat pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan ajaran gereja, maka orang yang mengemukakanya akan mendapatkan hukuman berat. Pihak gereja melarang diadakanya penyelidikan-penyelidikan berdasarkan rasio terhadap agama. Karena itu, kajian terhadap agama/teologi yang tidak berdasarkan ketentuan gereja akan mendapatkan larangan yang ketat. Yang berhak mengadakan penyelidikan terhadap agama hanyalah pihak gereja. Walaupun demikian, ada juga yang melanggar larangan tersebut dan mereka dianggap orang murtad dan kemudian diadakan pengejaran (inkuisisi). Pengejaran orang-orang murtad ini mencapai puncaknya pada saat Paus Innocentius III di akhir abad XII, dan yang paling berhasil dalam pengejaran orang-orang murtad ini di Spanyol.

Ciri-ciri pemikiran filsafat barat abad pertengahan adalah:

*        Cara berfilsafatnya dipimpin oleh gereja.

*        Berfilsafat di dalam lingkungan ajaran Aristoteles.

*        Berfisafat dengan pertolongan Augustinus dan lain-lain.

Masa Abad pertengahan ini juga dapat dikatakan sebagai suatu masa yang penuh dengan upaya menggiring manusia ke dalam kehidupan/system kepercayaan yang picik dan fanatic, dengan menerima ajaran gereja secara membabi buta. Karena itu perkembaangan ilmu pengetahuan terhambat.

Masa ini penuh dengan dominasi gereja, yang tujuan untuk membimbing umat kea rah hidup yang saleh. Namun, disisi lain, dominasi gereja ini tanpa memikirkan martabat dan kebebasan manusia yang mempunyai perasaan, pikiran, keinginan, dan cita-cita untuk menentukan masa depanya sendiri. Masa abad pertengahan ini terbagi menjadi dua masa yaitu; masa patristic dan masa skolastik.[1]

  1. Masa Patristik

Istilah Patristik berasal dari kata latin pater atau bapak, yang artinya para pemimpin gereja. Para pemimpin gereja ini dipilih dari golongan atas atau golongan ahli pikir. Dari golongan ahli pikir inilah menimbulkan sifat yang beragam pemikiranya. Mereka ada yang menolak filsafat yunani dan ada yang menerimanya.

Bagi mereka yang menolak, alasanya karena beranggapan bahwa sudah mempunyai sumber kebenaran yaitu firman Tuhan, dan tidak dibenarkan apabila mencari sumber kebenaran yang lain seperti dari filsafat yunani. Bagi mereka yang menerima sebagai alasanya beranggapan bahwa walaupun telah ada sumber kebenaran yaitu firman Tuhan, tetapi tidak ada jeleknya menggunakan filsafat yunani hanya diambil metodosnya saja (tata cara berfikir). Walaupun filsafat yunani sebagai kebenaran manusia, tetapi manusia juga sebagai ciptaan Tuhan. Jadi, memakai/menerima filsafat yunani diperbolehkan  selama dalam hal-hal tertentu tidak bertentangan dengan agama Kristen.

  1. Tentang ST. Augustinus

ST. Augustinus lahir di Tagasta, Numidia (sekarang Algeria), pada tanggal 13 November 354. Ayahnya, Patricius, adalah seorang pejabat pada kekaisaran Romawi, yang tetap kafir sampai kematiannya pada tahun 370. Ibunya, Monica (Monnica), adalah penganut Kristen yang amat taat.[2]

Sejak mudanya ia telah mempelajari bermacam-macam aliran filsafat, antara lain platonisme dan skeptitisme. Ia telah diakui keberhasilanya dalam membentuk fisafat Kristen yang berpengaruh besar dalam filsafat abad pertengahan sehingga ia dijuluki sebagai guru skolastik yang sejati. Ia seorang tokoh besar dibidang teologi dan filsafat.

Ajaran Augustinus berhasil menguasai sepuluh abad, dan mempengaruhi pemikiran Eropa. Perlu diperhatikan bahwa para pemikir patristic itu sebagai pelopor pemikiran skolastik. Mengapa ajaran Augustinus sebagai akal dari skolastik dapat mendominasi hampir sepuluh abad ? karena ajaranya lebih bersifat sebagai metode dari pada suatu system sehingga ajarannya mampu meresap sampai masa skolastik.[3]

Augustinus menghabiskan sebagian besar hidupnya di sana, 35 tahun terakhir sebagai Uskup Carthago. Setelah banyak melakukan dasa dan banyak perjalanan ke tempat maksiat di Carthago pada masa mudanya, akhirnya ia mengabdikan hidupnya untuk selibat dan menulis autobiografi rohaninya yang terkenal, pengakuan-pengakuan.[4]

Augustinus menulis banyak karangan. Yang termasyhur ialah confessions (pengakuan-pengakuan) di mana ia mengisahkan riwayat hidupnya berupa doa dihadapan Tuhan. Dalam buku De Civitate Dei (perihal Negara Allah) ia mengemukakan pendapatnya sebagai teolog dan filsuf Kristen tentang sejarah perkembangan sejarah umat manusia. Dalam bidang filsafat, Augustinus mencari inspirasinya terutama dalam neoplatonisme atau lebih tepat lagi dapat dikatakan, dalam platonisme, sebab ia sendiri tidak memperbedakan neoplatonisme (ajaran plotinos) dari platonisme (ajaran plato sendiri).[5]

 Tahun 395-396 ia ditahbiskan lagi menjadi pembantu uskup di Hippo. Hippo adalah sebuah kota yang berpenduduk kira-kira tiga puluh ribu orang. Tahun terakhir kehidupanya adalah tahun-tahun peperangan bagi Imperium Romawi. Pada bulan Agustus tahun 430, Vandal, yang menuju ke Barat setelah menguasai Kartago, mengepung Hippo. Di tengah-tengah penyerbuan pada tanggal 28 Agustus 430, Augustinus meninggal dalam kesucian dan kemiskinan yang memang sudah lama dijalaninya. Setelah penaklukan itu orang Vandal menghancurkan semua yang dijumpai mereka kecuali gereja dan perpustakaan Augustinus, yang dibiarkan tanpa diganggu.[6]

 

  1. Masa skolastik

Istilah skolastik adalah kata sifat yang berasal dari kata school, yang berarti sekolah. Jadi, skolastik berarti aliran atau yang berkaitan dengan sekolah. Perkataan skolastik merupakan corak khas dari sejarah filsafat abad pertengahan.

Terdapat beberapa pengertian dari corak khas skolastik, sebagai berikut.

  • Filsafat skolastik adalah filsafat yang mempunyai corak semata-mata agama. Skolastik ini sebagai bagian dari kebudayaan abad pertengahan yang religius.
  • Filsafat skolastik adalah filsafat yang mengabdi pada teologi atau filsafat yang rasional memecahkan persoalan-persoalan mengenai berfikir, sifat ada, kejasmanian, kerohanian, baik buruk.
  • Filsafat skolastik adalah suatu system filsafat yang termasuk jajaran pengetahuan alam kudrat, akan dimasukan ke dalam bentuk sintesis yang lebih tinggi antara kepercayaan dan akal.
  • Filsafat skolastik adalah filsafat nasrani karena banyak dipengaruhi oleh ajaran gereja.[7]   

 

  1. Hubungan Manusia dan Tuhan

Terpisah dari Tuhan tidak ada realitas, ungkapan ini tidak sulit dipahami bila kita menganggap bahwa esensi hanya milik Tuhan, hanya tuhan yang memilikinya. Tidak sulit dipahami bila kita berpendapat bahwa hakikat yang sebenarnya  (realitas yang sebenarnya) adalah sebab awal; hanya Tuhanlah yang merupakan sebab awal. Akan tetapi, bila dibandingkan dengan Plato, jelas pendapat ini berbeda dengan Plato. Bagi Plato, idea-idea yang tidak hanya satu itu adalah realitas yang sesungguhnya.

Ajaran Augustinus dapat dikatakan berpusat pada dua pool: Tuhan dan manusia. Akan tetapi, dapat juga dikatakan seluruh ajaran Augustinus berpusat pada Tuhan. Kesimpulan terakhir ini diambil karena ia mengatakan bahwa ia hanya ingin mengenal Tuhan, tidak lebih dari itu. Ia yakin benar bahwa pemikiran dapat mengenal kebenaran, setelah ia yakin bahwa ia ada, setelah ia yakin bahwa ia mampu mengenal Tuhan, maka mulailah mempelajari Tuhan. Bagimana kita bisa tahu tentanmg Tuhan ? menurut Augustinus, dalam kita mencari kebenaran, keindahan, kebaikan, kita sebenarnya dibimbing oleh konsep ada kebenaran, ada keindahan, dan ada kebaikan, yang absolut . maksud argumen ini adalah bahwa banyak kebenaran tentang benar, banyak kebenaran tentang indah, banyak kebenaran tentang baik. Menghadapi keadaan ini manusia didesak pada harus adanya yang absolut serta abadi itulah Tuhan. Jadi, ada semacam desakan kebutuhan yang ada dalam diri manusia, kebutuhan pada ukuran absolut tertinggi tatkala ia dihadapkan pada keanekaan objek. Menurut Augustinus, keesaan itu adalah Tuhan. Jadi, Tuhan itu ditemukan dengan rasa, bukan dengan proses pemikiran.

Ia juga berargumen lain tentang adanya Tuhan. Ia mengambil susunan alam semesta. Alam semesta ini menurut pendapatnya memerlukan pencipta. Fisik alam yang tidak teratur ini, tidak berketentuan ini, memerlukan pencipta dan pengatur. Yang dimaksud  tidak berketentuan ialah tidak tentu asalnya, keadaanya sekarang, riwayat alam ini selanjutnya. Keadaan alam seperti ini menurut Augustinus memerlukan pencipta dan pengatur. Ia sependapat dengan Plotinus yang mengatakan bahwa Tuhan itu di atas segala jenis. Sifat Tuhan yang paling penting ialah kekal, bijaksana, mahakuasa, tidak terbatas, mahatahu, mahasempurna, dan tidak dapat diubah. Tuhan itu kuno, tetapi selalu baru; Tuhan adalah suatu kebenaran yang abadi.[8]

 

  1. Teori Pengetahuan

Augutinus menolak teori kemungkinan dari septitisme. Saya tahu bahwa saya tahu dan mencinta. Bagaimana jika anda bersalah ? saya bersalah, jadi saya ada. Kesalahan saya membuktikan adanya saya. Jika saya tahu bahwa saya tidak bersalah, saya pun tahu bahwa saya ada. Saya mencintai diri saya, baik tatkala saya salah maupun saya tidak salah, kedua-duanya tidaklah palsu. Bila kedua-duanya palsu, berarti saya mencintai objek yang palsu, jadi saya mencintai objek yang tidak ada. Akan tetapi, karena saya benar-benar ada, karena saya salah atau tidak salah, saya tetap ada maka dari itu saya mencintai objek yang benar-benar ada yaitu saya.

Di dalam argumen ini Augustinus sesungguhnya tidak mengandalkan rasio atau logika; ia mengandalkan kesadaran, jadi mengandalkan perasaan. Keadaan saya bersalah, atau keadaan saya tidak bersalah, menyebabkan saya menyadari bahwa saya ada. Penolakanya terhadap skeptitisme ini dilanjutkan sebagai berikut; menurut Augustinus, jalan ke filsafat terbentang pada pengetahuan tentang diri sendiri.

Pemikiran menurut Augustinus bukanlah pencapaian manusia yang tertinggi sebab pada tingkat tertinggi pengetahuan (pemikiran), kita mengalami pencerahan ilahiah, dan dari situ kita memperoleh secara langsung kesadaran tentang keagungan Tuhan. Bagaimana sikap kita terhadap pengetahuan ? apakah itu rendah ? apakah semata-mata  berpegang pada keimanan ? Augustinus menjawab sebagai berikut. Sekalipun iman adalah yang pertama, iman dapat diperkuat oleh pengetahuan rasional. Pemikiran tidak mungkin bertentangan dengan keimanan  sebab kedua-duanya datang dari sumber yang sama, yaitu Tuhan. Sebenarnya pengetahuan pada tingkat paling tinggi tetaplah rendah. Kita mesti menggantungkan diri sepenuhnya pada cahaya Tuhan, cahaya yang dapat menerangi jiwa kita. Jadi kita dapat mengatakan bahwa teori pengetahuan pada Augustinus adalah teori pengetahuan yang memerlukan pencerahan ilahiah. Tuhan mencurahkan cahaya-Nya pada jiwa manusia dan menyebabkan jiwa itu mampu menangkap kebenaran terakhir, tetap, dan tidak berubah. Jadi, bagi Augustinus, dalam mencari kebenaran, Tuhan adalah guru.[9]

  1. Teori Augustinus Tentang Jiwa

Menurut Augustinus, jiwa tidak mempunyai bagian karena ia immaterial. Augustinus membuktikan imaterialnya jiwa  dengan mengatakan bahwa jiwa itu di dalam badan, ada di mana-mana dalam bandan pada waktu yang sama. Bila jiwa itu  material, ia akan terikat  pada tempat tertentu dalam badan. Akan tetapi jiwa, mempunyai tiga kegiatan pokok: pertama mengingat, kedua mengerti, ketiga mau.

Augustinus tidak menerima pandangan yang mengatakan  ada dunia jiwa atau dunia roh. Ini adalah pandangan neo-Platonisme. Menurut Augustinus, yang ada ialah jiwa yang tunggal dan individual. Dikatakan tunggal karena jiwa ada pada badan, badan itu tunggal dan individual. Jiwa tidak ada bila tidak ada badan. Tidak ada jiwa umum karena jiwa itu individual, ada pada individu-individu. Akan tetapi, ia juga mengatakan bahwa jika tidak bergantung pada badan. Badan akan binasa sedangkan jiwa tidak.

Ia juga mengemukakan argument untuk membela pendapatnya bahwa jiwa bersifat immortal (immortal yaitu tidak bisa musnah). Katanya, kebenaran bersifat abadi; jiwa memiliki kebenaran itu (kebenaran itu ada dalam jiwa) karena itu mestilah jiwa itu abadi.

Sebenarnya kebenaran tidak perlu dibuktikan sesulit itu mengenai keabadianya. Kebenaran memang abadi. Siapa yang dapat merusak atau mengubah kebenaran  empat persegi panjang tidak sama dengan lingkaran, apakah Tuhan akan mengubah atau memusnahkan kebenaran ? Agaknya tidak. Tatkala tidak ada manusia, apakah 2×2 bukan lagi 4 ? tidak, itu tetap 4. Jadi, kebenaran bersifat abadi. Bagi Augustinus, kebenaran bersifat abadi karena kebenaran tidak terpisah dari jiwa; maka jiwa itu pun haruslah abadi.

Mengenai penciptaan jiwa menurut Augustinus jiwa itu diciptakan, bukan memancar (emanasi) seperti pada teori Plotinus. Penempatanya di dalam badan bukan hasil atau akibat kejatuhanya, melainkan memang kewajaran atau naturalnya jiwa itu bertempat dalam badan jasmani. Jiwa tidak ada tanpa badan, akan tetapi, jiwa tidak bergantung pada badan. Jiwa lebih tinggi dari pada badan. Dengan ini ia menegaskan bahwa jiwa itu lebih hakikatnya dari pada badan.[10]

Penutup

Augustinus mengganti akal dengan iman; potensi manusia yang diakui pada zaman Yunani diganti dengan kuasa Allah. Ia mengatakan bahwa kita tidak perlu dipimpin oleh pendapat bahwa kebenaran itu relatif. Kebenaran itu mutlak, yaitu ajaran agama.

Referensi

ü  Tafsir, Ahmadi, Filsafat Umum, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2009.

ü  Bertens, K., Ringkasan Sejarah Filsafat, Kanisius, Yogyakarta, 1998.

ü  Osborne, Richard, Filsafat Untuk Pemula, Kanisius, Yogyakarta, 2001.

ü  Achmadi, Asmoro, Fisafat Umum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2010.


[1] Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2010, hlm. 66-68.

[2] Prof. DR. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2009, hlm. 83.

[3] Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2010, hlm. 71.

[4] Richard Osborne, Filsafat untuk Pemula, Kanisius, Yogyakarta, 1991, hlm. 36.

[5] Prof. k. Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, kanisius, Yogyakarta, 1998, hlm. 23.

[6] Prof. DR. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2009, hlm. 84-85.

[7] Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2010, hlm. 72.

[8]   Prof. DR. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2009, hlm. 85-86.

[9] Prof. DR. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2009, hlm. 86-88.

[10] Prof. DR. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2009, hlm. 88-89.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s